Saya Isbal dan ga ada niat untuk sombong?

Perbuatan isbal dengan niatan sombong atau tidak sombong

Perbuatan Isbal jika dilakukan dengan niatan sombong maka hukumannya Allah ta`ala tidak akan melihatnya pada hari kiamat, tidak diajak bicara, tidak ditazkiyah, dan baginya adzab yang pedih. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu`alahi wa sallam:

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم: المسبل إزاره والمنان والمُنَفِّقُ سلعته بالحلف الكذب

“Tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat, tidak disucikan dan bagi mereka adzab yang pedih, mereka adalah: orang yang memanjangkan kainnya, orang yang memberi dengan sombong, orang munafik yang senjatanya dengan sumpah dusta” (HR. Muslim 289).

من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة

“Barangsiapa yang memanjangkan kainnya (hingga di bawah mata kaki) karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat” (HR. Al-Bukhari 5784).

Jikalau dia melakukan isbal tanpa niatan sombong, maka dia akan diadzab di neraka karena kain yang menjulur di bawah mata kakinya. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallhu`alaihi wa sallam:

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

artinya: “Kain yang menjulur di bawah mata kaki, maka itu di neraka“(HR. Al-Bukhari 5758).

Dalam hadis ini orang yang melakukan isbal tidak dihubungkan dengan niatan sombong. Begitu juga hadis ini tidak boleh dikaitkan dengan orang yang isbal karena ada niatan sombong, karena adanya hadis khusus tentang isbal dengan niatan sombong di atas.

Abu Said Al-Khudri pernah berkata: bersabda Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam:

أزرة المؤمن إلى نصف الساق ولا حرج – أو قال – :لا جناح عليه فما بينه وبين الكعبين ، وما كان أسفل من ذلك فهو في النار ، ومن جر بطراً لم ينظر الله إليه يوم القيامة

“Kain/sarung seorang mukmin tidak mengapa panjangnya hingga setengah betis, dan dibolehkan pula panjangnya antara betis dan kedua mata kaki, dan kain yang di bawah itu maka dia di neraka, dan barang siapa yang sengaja menjulurkan (hingga ke bawah mata kaki) dia tidak akan dilihat oleh Alloh pada hari kiamat kelak” (HR Ahmad, 3/5, Abu Dawud kitab al-libas bab fii qodri maudhi al-izaar 4093, Ibnu Majah 3573).

Kedua perbuatan di atas jelas berbeda, maka berbeda pula hukumnya; ketika hukum dan sebabnya berbeda maka tidak bisa membawa hukum yang mutlak kepada hukum yang muqoyyad, karena jelas adanya pertentangan antara keduanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s