Ibu Merusak Ikatan Alami dengan Bayinya

Ikatan alami bayi dengan ibunya, semakin terkikis akibat sang ibu menjejali anaknya dengan segudang aktivitas. Begitu menurut hasil penelitian.

Bayi kecil berkembang secara alami dengan merespon suara manusia dan sentuhan.

Namun sayangnya, ibu seringkali memaksakan bayi mungil mereka untuk mendapatkan banyak aktivitas harian, seperti kelas yoga, berenang, musik dan bahkan salsa.

Menyanyikan lagu pengantar tidur merupakan salah satu cara terbaik untuk merekatkan ikatan antara ibu dan bayinya. Tapi zaman sekarang, hal itu sudah dianggap tidak “keren” lagi.

Menurut pakar perawatan anak, Sylvie Hetu, peran mendampingi perkembangan anak justru digantikan oleh pekerja kesehatan atau perawat (seperti baby sitter -red), yang terus menerus mengintervensi kehidupan anak-anak sejak lahir.

Dalam bukunya “Too Much, Too Soon?”, Hetu menulis, zaman sekarang bayi punya jadwal layaknya orang dewasa yang sibuk. Ada kelas musik bayi, yoga bayi, senam bayi, menyanyi bayi, salsa bayi, bahasa bayi, bayi Einstein.

“Kelas bayi menyanyi dan bayi berenang sangat umum sekarang ini,” kata Hetu

Menurut pakar bayi itu, sebenarnya bayi merespon baik suara manusia, wajah manusia dan sentuhan manusia. Dan mereka akan secara alami membuka dirinya kepada dunia.

Bayi membutuhkan kehadiran yang tenang dari orangtuanya, suara di rumah sehari-hari dan suara manusia di sekitar mereka.

Itulah stimulasi yang mereka butuhkan. Mereka juga butuh perlindungan dari stimulasi yang berlebihan.

Bayi merespon dengan sangat baik lagu-lagu pengantar tidur, seperti lagu ninabobo dan Twinkle, Twinkle Little Star. Semua kebudayaan di dunia bahkan punya lagu pengantar tidurnya sendiri.

Sangat disayangkan, ibu-ibu zaman sekarang tidak lagi menganggap nyanyian pengantar tidur sebagai sesuatu yang penting untuk dilakukan setiap hari.

Ibu zaman sekarang menganggap, menyanyikan lagu pengantar tidur, seperti yang sering dilakukan orangtua generasi sebelumnya, adalah “tidak keren”. Atau ibu tidak mau melakukannya karena alasan sederhana, misal merasa tidak memiliki suara yang bagus, atau daripada menyanyi sendiri lebih baik mendengarkan suara musik.

Dalam bukunya, Hetu mengkritik inervensi para dokter dan perawat terhadap bayi-bayi yang baru lahir.

“Di beberapa rumah sakit, bayi baru lahir langsung dibawa, dimandikan, diberi macam-macam vaksin, diberi macam-macam vitamin, ditimbang, baru kemudian diberikan kepada ibunya,” katanya.

“Hingga tahun 1980-an secara umum kita berpandangan bahwa bayi itu tidak bisa merasa. Tapi kemudian kita baru menyadari bahwa bayi itu sebenarnya adalah mahluk yang sangat sensitif,” kata Hetu.

“Jadi mengapa tidak kita beri mereka kesempatan untuk mengenal dunia ini secara perlahan?” katanya lagi.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s