Kiprah Pemuda; Harapan, Tinta Emas dan Tantangan Masa Depan


Oleh: Asdi Nurkholis

Menjadi sangat penting mengangkat tema tentang pemuda dalam kancah pendidikan saat ini, bagaimana tidak; sebab dalam sejarah pendidikan tidak akan pernah terlepas dari peran para pemuda baik sebagai obyek ataupun subyek pendidikan.

Masa muda adalah masa yang pasti dilalui setiap orang untuk sampai ke masa tua, bahkan karena pentingnya masa muda ini Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam mewanti-wanti kepada para pemuda dalam sabda beliau yang artinya:

“ Bahwa kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak, kecuali setelah ditanya empat hal; salah satunya adalah masa mudanya dia gunakan untuk apa?… “

Cukup tajam makna dari hadis di atas dan mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan para pemuda saat ini selama hidup di dunia akan memberikan dampak pada kehidupan akhiratnya kelak.

1400 abad lebih Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam mengingatkan akan masa muda yang begitu berharga dan sangat penting dalam setiap lini kehidupan manusia; sebab di masa muda seseorang memiliki banyak kelebihan: dari sisi Fisik; masih sehat, otot dan tulang masih kuat, siap untuk diajak beraktifitas dan mengangkat benda-benda berat jika dibutuhkan, dari sisi non fisik; otak masih segar, belum bercabang dalam berfikir, masih sangat siap untuk diajak berdiskusi dan menambah ilmu sebanyak-banyaknya.

 

Goresan Tinta Emas Generasi Muda Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam

 

Berbicara peran pemuda dalam pendidikan; sejenak kita melihat bagaimana sang pendidik yang agung nan mulia Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam mengajarkan kepada para pemuda agar berkiprah untuk kepentingan agama, bangsa dan negara; disamping bagaimana para pemuda ini memanfaatkan usia produktif untuk berkontribusi dalam kemaslahatan ummat:

Abdullah Ibnu Abbas, di usia 13 tahun beliau sudah menjadi ahli dan pakar tafsir dari kalangan shahabat Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam. Beliau merupakan pemuda yang cerdas otaknya dan memiliki kepiawaian dalam orasi. Dan perlu kita ketahui bahwa beliau ini menjadi muridnya Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam kurang dari sepuluh tahun.

Ibnu Umar putra Umar bin Khattab memulai belajar agama pada usia 10 tahun ketika di Madinah, beliau pernah menceritakan; karena kuatnya pendidikan yang diajarkan Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam untuk membela agama, bangsa dan negara, di saat usia beliau memasuki 14 tahun, beliau berharap bisa ikut dalam perang Uhud, perang kedua dalam Islam; namun keinginan itu belum tercapai karena tidak mendapatkan ijin dari Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam disebabkan usia yang masih sangat muda dan belum baligh; akhirnya beliau baru mendapatkan kesempatan mengikuti perang Khandak pada saat usia 15 tahun.

Abu Huraerah, seorang penuntut ilmu handal yang telah meriwayatkan dari Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam lebih kurang 8.700 hadist; beliau menjadi seorang muslim dan memulai berguru kepada Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam pada usia 16 tahun.

Mu`adz ibnu Jabal, seseorang yang dijuluki oleh Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam sebagai pakar dalam masalah halal dan haram, di usianya yang ke- 32 tahun beliau diutus Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam untuk mejadi duta besar sekaligus guru dan mufti di negeri Yaman.

 

Tantangan Masa Kini Bagi Pemuda

 

Menjadi sebuah catatan di zaman ini, tidak sedikit para pemuda yang lalai pada masa mudanya, waktu yang ia miliki terbuang tanpa sedikitpun ada nilai plus yang bisa dibanggakan, dan sangat sedikit dari mereka yang benar-benar memanfaatkan masa mudanya diisi dengan hal-hal positif untuk kebaikan di masa tuanya, bahkan untuk kebaikan di masa setelah kematiannya.

Tantangan yang tak henti-henti yang dihadapi para pemuda adalah godaan dunia; misal dalam masalah rokok, berdasarkan data Riskesdas 2010, prevalansi penduduk usia 15 tahun keatas yang merokok setiap hari secara nasional mencapai 28,2 persen. Sedangkan berdasarkan usia pertama kali merokok secara nasional, kelompok usia 15-19 tahun menempati peringkat tertinggi dengan prevalansi mencapai 43,3 persen, disusul kelompok usia 10-14 tahun yang mencapai 17,5 persen. Sementara itu, data dari Menkes, lebih dari 43 juta anak Indonesia hidup serumah dengan perokok dan terpapar asap rokok atau sebagai perokok pasif. Sebesar 37,3 persen pelajar dilaporkan terbiasa merokok, dan 3 di antara 10 pelajar pertama merokok pada usia dibawah 10 tahun.

Belum lagi kalau kita melihat data pecandu narkoba; 70 persen dari 4 juta pecandu narkoba tercatat sebagai anak usia sekolah, yakni berusia 14 hingga 20 tahun. “Bahkan sudah menyusup ke anak usia SD,” ujar Muchlis Catyo, Kepala Subdit Kesiswaan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional.

Apalagi jika kita melihat data seks bebas yang membabi buta; berdasarkan data Yayasan AIDS Indonesia (YAI), jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia per Maret 2009, mencapai 23.632 orang. Dari jumlah itu, sekitar 53 persen terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun, disusul dengan kelompok usia 30-39 tahun sekitar 27 persen.

Cukup menyedihkan dan sangat mengkhawatirkan bagi sebuah negeri jikalau kondisi pemudanya demikian.

 

Peran Pemuda Untuk Pendidikan

 

Tidak mudah untuk menyadarkan kepada para pemuda yang sudah jauh terjerumus dalam lembah hitam kemaksiatan dan kemalasan berfikir serta hilangnya produktifitas; namun masih ada secercah harapan bagi kita disaat melihat masih banyaknya para pemuda yang terus belajar dan sadar akan kewajibannya sebagai hamba, yang dengannya mendorong semangat untuk ikut serta dalam mencerdaskan bangsa. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan para pemuda sebagai bentuk sumbangsih bagi pendidikan:

  1. Teruslah belajar; ada sebuah ungkapan dalam bahasa Arab “Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi”, carilah ilmu sejak dari buaiyan hingga liang lahat; artinya mencari ilmu menjadi bagian nafas dari kehidupan kita, tidak mengenal batas waktu, usia dan tempat.  Ketika seseorang mau belajar, setidaknya kesempatan untuk berbuat negatif akan hilang dengan sendirinya dari dirinya.
  2. “Khairu jaliisin fiz zamaani kitaabun”; ungkapan bahasa Arab yang masih terus terngiang di telinga, bahwa sebaik-baik teman duduk adalah buku-buku yang kita baca. Menyibukkan diri dengan membaca buku-buku yang bermanfaat pastilah akan memunculkan generasi kutu buku, generasi yang akan menghabiskan waktunya bercengkrama dengan para ulama maupun ilmuwan dari karya-karya mereka.
  3. Carilah teman dan lingkungan yang baik; tidak bisa dipungkiri lagi bahwa teman yang baik lagi shalih akan mempengaruhi diri kita, begitu juga sebaliknya. Mencari teman yang baik merupakan bagian dari penerapan nilai-nilai akhlak di luar sekolah.
  4. Perbaiki moralitas diri; cara terbaik untuk menyadarkan diri kita adalah dengan kembali merenungi tugas dan kewajiban kita sebagai seorang hamba.
  5. Menghormati guru kita; bagian terpenting dalam proses pembelajaran adalah bagaimana seorang murid mampu menghormati gurunya, dan sebaliknya bagaimana seorang guru dapat mengajarkan norma-norma adab dan sopan santun kepada muridnya. Posisi guru menjadi suritauladan bagi murid-muridnya menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar, guru bukanlah jabatan fungsional semata namun guru adalah jabatan sebagai seorang pendidik, pengayom, pemberi contoh bahkan menjadi jabatan layaknya anak kepada orangtuanya.

Berangkat dari sebuah hadist yang mulia di atas, begitu juga prestasi yang diraih generasi terbaik dari ummat ini, serta gambaran tantangan masa kini dan kiat apa saja yang bisa dilakukan oleh para pemuda, hal itu semua berkaitan erat dengan proses pendidikan.

Hadist tersebut menjadi stimulus jangka panjang dalam mengisi waktu muda yang begitu singkat dan cepat, para shahabat Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam sadar betul akibat yang akan didapat kelak di hari akhir ketika tidak bersungguh-sungguh dalam kebaikan; dan tidak bisa dilupakan juga peran pendidikan Rasulullah shalallahu`alaihi wa sallam yang begitu mendasar dan tertancam kokoh dalam setiap sanubari shahabat, membangunkan mereka dari tidur panjang, foya-foya dan kemalasan kepada kreatifitas, berkarya dan semangat menuntut ilmu.

Kondisi real saat ini dengan data-data yang sangat mengejutkan dan mengerutkan dahi kita seakan tidak percaya, menunjukkan begitu hancurnya generasi muda kita; mengharuskan kita melihat kembali draf-draf kurikulum pendidikan kita, menimbang kembali antara teori dan praktek di lapangan apakah sudah berjalan beriringan atau terjadi ketimpangan?.

Setidaknya pemuda kita menjadi generasi yang suka membaca dan mau belajar dari pengalaman agar tidak terjatuh di lobang yang sama, pemuda yang mau memperbaiki akhlak dan moralitasnya, mencari teman yang dapat menuntun kepada kebaikan, serta mau mengamalkan ilmu dan nasehat dari guru-guru mereka.

Dan sekali lagi, bahwa pendidikan yang berkualitas dan membumi akan menghasilkan pemuda-pemuda tangguh, pemuda yang tidak akan pernah tergoda dengan kenikmatan sesaat, pemuda yang siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk menjunjung tinggi martabat bangsa dan negara.*

 

(Dimuat dalam Majalah Pendidikan “PENA”, Atase Pendidikan KBRI Riyadh, Arab Saudi. Edisi: Oktober-Desember 2013, halaman: 2-5)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s